Minggu, 22 November 2009

Layanan Telematika

Berdasarkan Instruksi Pesiden Republik Indonesia (Inpres) nomor 6 tahun 2001. Pesatnya kemajuan teknologi telekomunikasi, media, dan informatika atau disingkat sebagai teknologi telematika serta meluasnya perkembangan infrastruktur informasi global telah merubah pola dan cara kegiatan bisnis dilaksanakan di industri, perdagangan, dan pemerintah. Perkembanganilmu pengetahuan dan masyarakat informasi telah menjadi paradigma global yang dominan. Kemampuan untuk terlibat secara efektif dalam revolusi jaringan informasi akan menentukan masa depan kesejahteraan bangsa.
Berbagai keadaan menunjukkan bahwa Indonesia belum mampu mendayagunakan potensi teknologi telematika secara baik, dan oleh karena itu Indonesia terancam "digital divide" yang semakin tertinggal terhadap negara-negara maju. Kesenjangan prasarana dan sarana telematika antara kota dan pedesaaan, juga memperlebar rurang perbedaan sehingga terjadi pula "digital divide" di dalam negara kita
sendiri. Indonesia perlu melakukan terobosan agar dapat secara efektif mempercepat pendayagunaan teknologi telematika yang potensinya sangat besar itu,untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mempererat persatuan bangsa sebagai landasan yang kokoh bagi pembangunan secara berkelanjutan. Di dalam hal ini pemerintah perlu secara proaktif dan dengan komitmen yang tinggi membangunkesadaran politik dan menumbuhkan komitmen nasional,membentuk lingkungan bisnis yang kompetitif, serta meningkatkan kesiapan masyarakat untuk mempercepat pengembangan dan pendayagunaan teknologi telematika secara sistematik.
Indonesia perlu menyambut komitmen dan inisiatif berbagai lembaga internasional, kelompok negara atau negara-negara lain secara sendiri-sendiri dalam meningkatkankerja sama yang lebih erat dalam penyediaan sumber daya pembiayaan, dukungan teknis, dan sumber daya lain untuk membantu Indonesia sebagai negara berkembang mengatasi "digital divide". Dengan kenyataan tersebut, pemerintah dengan ini menyatakan komitmen untuk melaksanakan kebijakan serta melakukan langkah-langkahdalam bentuk program aksi yang dapat secara nyata mengatasi "digital divide", dengan arah pengembangan sebagai yang dimaksud dalam isi kerangka kebijakan ini.

a. Layanan Telematika dibidang Informasi

Penggunaan teknologi telematika dan aliran informasi harus selalu ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk pemberantasan kemiksinan dan kesenjangan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Selain itu, teknologi telematika juga harus diarahkan untuk menjembatani kesenjangan politik dan budaya serta meningkatkan keharmonisan di kalangan masyarakat

Wartel dan Warnet memainkan peranan penting dalam masyarakat. Warung Telekomunikasi dan Warung Internet ini secara berkelanjutan memperluas jangkauan pelayanan telepon dan internet, baik di daerah kota maupun desa, bagi pelanggan yang tidak memiliki akses sendiri di tempat tinggal atau di tempat kerjanya. Oleh karena itu langkah-langkah lebih lanjut untuk mendorong pertumbuhan jangkauan dan kandungan informasi pelayanan publik, memperluas pelayanan kesehatan dan pendidikan, mengembangkan sentra-sentra pelayanan masyarakat perkotaan dan pedesaan, serta menyediakan layanan "e-commerce" bagi usaha kecil dan menengah, sangat diperlukan. Dengan demikian akan terbentuk Balai-balai Informasi. Untuk melayani lokasi-lokasi yang tidak terjangkau oleh masyarakat.

b. Layanan Telematika di bidang Keamanan

Layanan telemaatika juga dimanfaatkan pada sektor – sektor keamanan seperti yang sudah dijalankan oleh Polda Jatim yang memanfaatkan TI dalam rangka meningkatkan pelayanan keamanan terhadap masyarakat. Kira-kira sejak 2007 lalu, membuka layanan pengaduan atau laporan dari masyarakat melalui SMS dengan kode akses 1120. Selain itu juga telah dilaksanakan sistem online untuk pelayanan di bidang Lalu Lintas. Polda Jatim memiliki website di http://www.jatim.polri.go.id, untuk bisa melayani masyarakat melalui internet. Hingga kini masih terus dikembangkan agar dapat secara maksimal melayani masyarakat. Bahkan Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polda Jatim sudah banyak memanfaatkan fasilitas website ini dan sangat bermanfaat dalam menangani kasus-kasus yang sedang terjadi dan lebih mudah dalam memantau setiap perkembangan kasus atau laporan, baik laporan dari masyarakat maupun laporan internal untuk Polda Jatim sendiri. Bukan hanya penanganan kasus kejahatan semata, tapi juga termasuk laporan terkait lalu lintas, intelijen, tindak pidana ringan (tipiring) di masyarakat, pengamanan untuk pemilu, termasuk laporan bencana alam. Masyarakat juga bisa menyampaikan uneg-uneg atau opini mengenai perilaku dan layanan dari aparat kepolisian melalui email atau website . Semoga saja daerah – daerah lainnya yang tersebar diseluruh Indonesia dapat memanfaatkan teknologi telematika seperti halnya Polda Jatim agar terciptanya negara Indonesia yang aman serta disiplin.
Indonesia perlu menciptakan suatu lingkungan legislasi dan peraturan perundang-undangan.Upaya ini mencakup perumusan produk-produk hukum baru di bidang telematika (cyber law) yang mengatur keabsahan dokumen elektronik, tanda tangan digital, pembayaran secara elektronik, otoritas sertifikasi, kerahasiaan, dan keamanan pemakai layanan pemakai layanan jaringan informasi. Di samping itu, diperlukan pula penyesuaian berbagai peraturan perundang-undangan yang telah ada, seperti mengatur HKI, perpajakan dan bea cukai, persaingan usaha, perlindungan konsumen, tindakan pidana, dan penyelesaian sengketa. Pembaruan perauran perundang-udangan tersebut dibutuhkan untuk memberikan arah yang jelas, transparan, objektif, tidak diskriminatif, proporsional, fleksibel, serta selaras dengan dunia internasional dan tidak bias pada teknologi tertentu. Pembaruan itu juga diperlukan untuk membentuk ketahanan dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman dan kejahatan baru yang timbul sejalan dengan perkembangan telematika.
c. Layanan Context Aware dan Event-Based
Di dalam ilmu komputer menyatakan bahwa perangkat komputer memiliki kepekaan dan dapat bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya berdasarkan informasi dan aturan-aturan tertentu yang tersimpan di dalam perangkat. Gagasan inilah yang diperkenalkan oleh Schilit pada tahun 1994 dengan istilah context-awareness.
context-awareness adalah kemampuan layanan network untuk mengetahui berbagai konteks, yaitu kumpulan parameter yang relevan dari pengguna (user) dan penggunaan network itu, serta memberikan layanan yang sesuai dengan parameter-parameter itu. Beberapa konteks yang dapat digunakan antara lain lokasi user, data dasar user, berbagai preferensi user, jenis dan kemampuan terminal yang digunakan user. Sebagai contoh : ketika seorang user sedang mengadakan rapat, maka context-aware mobile phone yang dimiliki user akan langsung menyimpulkan bahwa user sedang mengadakan rapat dan akan menolak seluruh panggilan telepon yang tidak penting. Dan untuk saat ini, konteks location awareness dan activity recognition yang merupakan bagian dari context-awareness menjadi pembahasan utama di bidang penelitian ilmu komputer.
Tiga hal yang menjadi perhatian sistem context-aware menurut Albrecht Schmidt, yaitu:
1. The acquisition of context
Hal ini berkaitan dengan pemilihan konteks dan bagaimana cara memperoleh konteks yang diinginkan, sebagai contoh : pemilihan konteks lokasi, dengan penggunaan suatu sensor lokasi tertentu (misalnya: GPS) untuk melihat situasi atau posisi suatu lokasi tersebut.
2. The abstraction and understanding of context
Pemahaman terhadap bagaimana cara konteks yang dipilih berhubungan dengan kondisi nyata, bagaimana informasi yang dimiliki suatu konteks dapat membantu meningkatkan kinerja aplikasi, dan bagaimana tanggapan sistem dan cara kerja terhadap inputan dalam suatu konteks.
3. Application behaviour based on the recognized context
Terakhir, dua hal yang paling penting adalah bagaimana pengguna dapat memahami sistem dan tingkah lakunya yang sesuai dengan konteks yang dimilikinya serta bagaimana caranya memberikan kontrol penuh kepada pengguna terhadap sistem.
Sumber : http://helenamayawardhani.wordpress.com/2009/07/17/context-awareness/

d. Layanan Perbaikan Sumber

TELEMETIKA UNTUK MEMPERSATUKAN BANGSA DAN MEMBERDAYAKAN RAKYAT

Indonesia pada saat ini tengah dalam masa transisi menuju negara demokrasi. Dengan sistem pemerintahan yang terdesentralisasi dalam negara kesatuan dan
persatuan bangsa yang kukuh. Untuk mempercepat proses demokrasi dalam kesatuan dan persatuan tersebut, Indonesia harus mampu mendayagunakan potensi teknologi telematika untuk keperluan :

- meniadakan hambatan pertukaran informasi antar masyarakat dan antar wilayah
negara, karena hanya dengan demikian berbagai bentuk kesenjangan yang
mengancam kesatuan bangsa dapat teratasi secara bertahap;

- memberikan kesempatan yang sama serta meningkatkan ketersediaan informasi
dan pelayanan publik yang diperlukan untuk memperbaiki kehidupan sosial dan
ekonomi masyarakat, serta memperluas jangkauannya agar dapat mencapai
seluruh wilayah negara;

- memperbesar kesempatan bagi usaha kecil dan menengah untuk berkembang
karena dengan teknologi telematika mampu memanfaatkan pasar yang lebih luas

- meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kemampuan inovasi dalam sektor
produksi, serta memperlancar rantai distribusi,agar daya saing ekonomi
nasional dalam persaingan global dapat diperkuat;

- meningkatkan transparansi dan memperbaiki efisiensi pelayanan publik, serta
memperlancar interaksi antar lembaga-lembaga pemerintah, baik pada tingkat
pusat maupun daerah, sebagai landasan untuk membentuk kepemerintahan yang
efektif, bersih,dan berorientasi pada kepentingan rakyat.

TELEMATIKA DALAM MASYARAKAT DAN UNTUK MAYSARAKAT

2. Penggunaan teknologi telematika dan aliran informasi harus selalu ditujukan
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk pemberantasan
kemiksinan dan kesenjangan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Selain itu, teknologi telematika juga harus diarahkan untuk menjembatani
kesenjangan politik dan budaya serta meningkatkan keharmonisan di kalangan
masyarakat.
5. Sektor swasta harus berperan aktif dalam penyediaan informasi serta
mengembangkan berbagai aplikasi yang diperlukan oleh masyarakat.Oleh karena
itu, pemerintah akan berupaya untuk mendorong perkembangan industri
"information content" dan aplikasi. Pendayagunaan perangkat lunak "open
sources" perlu mendapakan perhatian khusus.

6. Di pihak lain, pendayagunaan teknologi telematika sering terhambat oleh
kemampuan masyarakat menggunakannya, di mana bahasa seringkali merupakan
salah satu faktor penghambat. Agar difusi teknologi telematika dapat
dipercepat dan diperluas, maka di samping meningkatkan kemampuan
mendayagunakan teknologi telematika, pemerintah akan memberikan perhatian
khusus bagi berkembangnya standard dan piranti antarmuka berbasis bahasa
Indonesia untuk mempermudah penggunaan produk teknologi telematika bagi
penduduk yang tidak mampu berbahasa asing.

INFRASTRUKTUR INFORMASI NASIONAL

7. Infrastruktur jaringan informasi tidak saja diperlukan oleh masyarakat untuk
mengakses dan mendistribusikan informasi, baik di dalam negeri maupun global,
namun telah menjadi infrastruktur ekonomi yang sangat penting. Untuk dapat
memanfaatkan teknologi telematika yang berkembang dengan cepat, Indonesia
harus mengatasi tantangan moderenisasi dan perluasan infrastruktur informasi
nasional. Dunia usaha merupakan pendorong perkembangan infrastruktur
informasi nasional yang sangat penting, baik untuk menggalang investasi untuk
membangun infrastruktur tersebut maupun untuk mengembangkan berbagai inovasi
yang diperlukan bagi peningkatan kinerja jaringan informasi.

8. Indonesia akan terus menerus menumbuhkan pasar yang kompetitif bagi bisnis
telematika agar sektor swasta dapat berkembang secara efisien, serta
memantapkan strategi dan inisiatif untuk mendorong partisipasi internasional
dalam perluasan dan peningkatan kualitas jaringan informasi. Indonesia juga
harus memanfaatkan peningkatan skala ekonomi dan kemampuan teknologi yang
terbentuk, untuk menstimulasi pertumbuhan industri jasa dan industri yang
menghasilkan produk telematika.

9. Pemerintah pada dasarnya akan lebih berperan sebagai fasilitator dan
motivator. Dalam hubungan ini pemerintah akan secara terarah mengembangkan
berbagai bentuk kerjasama dan kemitraan dengan sektor swasta nasional, serta
menyediakan fasilitasi dan insentif agar sektor swasta dapat berperan secara
maksimal. Pemerintah pusat dan daerah dalam batas-batas kemampuannya harus
mempertimbangkan adanya sistem pendanaan yang cerdik dan kreatif untuk secara
langsung atau tidak langsung mendorong perkembangan layanan jaringan
informasi bagi usaha kecil menengah serta bagi masyarakat di daerah pedesaan,
yang tidak dapat terlayani secara komersial.

10. Pemerintah juga akan secara proaktif berperan sebagai katalis untuk
memfasilitasi interaksi dan komunikasi antar pihak-pihak yang berkepentingan,
serta mengembangkan kolaborasi dengan pihak-pihak luar negeri untuk berbagai
hal yang menyangkut pengembangan infrastruktur informasi nasional, termasuk
menyusun legislasi dan peraturan yang dapat memberikan kepastian dan
kenyamanan bagi investasi serta kegiatan bisnis di bidang telematika.

SEKTOR SWASTA DAN IKLIM USAHA

11. Perkembangan bisnis berbasis teknologi telematika, baik dalam tingkat skala
maupun lingkupnya, menentukan laju difusi teknologi ini ke dalam kegiatan
ekonomi dan kehidupan masyarakat. Sektor swasta memainkan peran yang penting
dalam mentransformasikan teknologi telematika yang sangat potensial itu
menjadi barang dan jasa yang diperlukan.

12. Indonesia saat ini dalam proses untuk mempercepat transisi di bidang
telekomunikasi dari lingkungan usaha yang monopolistik ke lingkungan usaha
yang kompetitif. Inisiatif tersebut dilaksanakan dengan membuka kesempatan
bagi sektor swasta untk memasuki bisnis jaringan dan jasa telekomunikasi,
termasuk penyiaran; mewujudkan kesetaraan peran sektor swasta dengan BUMN
dalam penyelenggaraan bisnis telematika; menciptakan kebijakan dan kerangka
peraturan perundang-undangan yang transparan; membentuk sistem dan lembaga
regulasi yang independen;dan menyediakan insentif yang selaras dengan
persyaratan pasar untuk mempercepat perkembangan industri jasa dan jaringan
telematika serta industri produk telematika menuju kelas dunia.

13. Indonesia perlu menciptakan suatu lingkungan legislasi dan peraturan
perundang-undangan yang dapat mendorong perkembangan "e-commerce"dan berbagai
pemanfaatan jaringan informasi. Upaya ini mencakup perumusan produk-produk
hukum baru di bidang telematika (cyber law) yang mengatur keabsahan dokumen
elektronik, tandatangan digital,pembayaran secara elektronik, otoritas
sertifikasi, kerahasiaan, dan keamanan pemakai layanan jaringan informasi.
Di samping itu, diperlukan pula penyesuaian berbagai peraturan perundang-
undangan yang telah ada, seperti yang mengatur HKI, perpajakan dan bea cukai,
persaingan usaha, perlindungan konsumen, tindakan pidana, dan penyelesaian
sengketa. Pembaruan peraturan perundang-undangan itu dibutuhkan untuk
memberikan arah yang jelas, transparan, objektif, tidak diskriminatif,
proporsional, fleksibel, serta selaras dengan dunia internasional dan tidak
bias pada teknologi tertentu. Pembaruan itu juga diperlukan untuk membentuk
ketahanan dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman dan kejahatan baru yang
timbul sejalan dengan perkembangan telematika.

14. Agar sumberdaya telematika yang terbatas dapat teralokasi secara wajar dan
efisien serta melindungi kepentingan masyarakat, jangkauan pembaharuan sistem
peraturan dan perundang-undangan di bidang telematika harus mengarah menuju
terbentuknya sistem yang bebas dari kepentingan sepihak. Untuk itu akan
diadakan tinjauan ulang, penyesuaian, dan restrukturisasi terhadap lembaga-
lembaga regulasi agar dapat diberdayakan serta terbebas dari semua bentuk
konflik kepentingan, termasuk perlakuan khusus dan berbagai kepentingan BUMN
yang dapat menghambat kompetisi.

15. Pemerintah bertekad dengan berbagai cara menciptakan serta terus menerus
memelihara dan meningkatkan lingkungan usaha yang kondusif dan kompetitif,
agar sektor swasta dapat berkembang untuk mendorong penyebaran teknologi
telematika di dalam negeri secara meluas sampai kesemua kabupaten, kecamatan,
dan desa, serta mempenetrasi pasar luar negeri.

PENINGKATAN KAPASITAS DAN TEKNOLOGI

16. Pada saat ini pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan tidak dapat
dilaksanakan tanpa kemajuan teknologi dan penerapannya. Pemerintah dan sektor
swasta perlu meningkatkan dukungan bagi pembentukan dan penyebaran kemampuan
iptek melalui program pendidikan dan penelitian pengembangan, serta
aplikasinya ke dalam dunia usaha secara luas.

17. Pemerintah dalam perannya sebagai katalis dalam memfasilitasi komunikasi dan
membangun konsensus antara pihak-pihak yang berkepentingan, menyadari penting
nya potensi pendayagunaan teknologi telematika untuk memperluas jangkauan dan
meningkatkan kualitas pendidikan. Pemerintah bersama-sama dengan pihak-pihak
terkait akan melaksanakan dan mendorong partisipasi sektor swasta dalam
mengembangkan program-program belajar jarak jauh, serta memanfaatkan tawaran
kerjasama internasional bagi keperluan peningkatan kemampuan teknis dan
pembelajaran berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.

GOVERNMENT ON-LINE

Penerapan jaringan informasi di lingkungan pemerintah pusat dan daerah secara terpadu telah menjadi prasyarat yang penting untuk mencapai "good governance" dalam rangka meningkatkan transparansi,akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan kepemerintahan guna antara lain memperbaiki pelayanan publik, meningkatkan efisiensi pelaksanaan otonom daerah, serta mengurangi berbagai kemungkinan kebocoran anggaran.

TIM KOORDINASI TELEMATIKA INDONESIA (TKTI)

TKTI mempunyai tugas mengkoordinasikan perencanaan dan memelopori program aksi dan inisiatif untuk meningkatkan perkembangan dan pendayagunaan teknologi telematika di Indonesia, serta memfasilitasi dan memantau pelaksanaannya. Agar program aksi dan inisiatif tersebut dapat dilaksanakan secara efektif, TKTI akan menkoordinasikan interaksi antar instansi pemerintah terkait, baik di pusat maupun daerah, agar pelaksanaan tugas dan fungsinya masing-masing dapat saling tunjang menunjang serta terpadu. TKTI juga akan berupaya mendorong keikutsertaan sektor swasta secara maksimal.

Untuk keperluan itu, TKTI juga akan memperkuat kemampuan menggalang sumber daya yang ada di Indonesia guna mendukung keberhasilan pelaksanaan semua arah pengembangan dan pendayagunaan teknologi telematika seperti yang tercakup didalam dokumen ini, melaksanakan forum untuk membangun konsensus antar pihak- pihak terkait di sektor pemerintah dan swasta, serta mengakses pengalaman internasional dalam mengembangkan sistem infrastruktur informasi nasional.TKTI akan mengakses kemungkinan untuk bekerjasama dengan berbagai lembaga internasional dan regional,untuk memperoleh masukan masukan strategis dibidang kebijakan dan peraturan perundang-undangan,mengembangkan sejumlah proyek percontohan untuk menstimulasi perkembangan telematika di Indonesia, serta mendapatkan dukungan teknis, pembiayaan, dan dukungan lainnya secara terpadu.

Arsitektur Telematika

Arsitektur system harus berdasarkan konfigurasi sistem secara keseluruhan yang akan menjadi tempat dari DBMS, basis data dan aplikasi yang memanfaatkannya yang juga akan menentukan bagaimana pemakai dapat berinteraksi dengannya. Seiring dengan kemajuan teknologi, aristektur tersebut semakin beraneka ragam atau semakin banyak jenisnya dan berubah pula keunggulannya. Yang harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan arsitektur sistem, yang paling cocok tentu saja bukan hanya keunggulan teknologinya saja, kita harus mempertimbangkan pula faktor biaya dan yang sesuai dengan kebutuhan nyata ditempat dimana sistem akan digunakan. Beberapa jenis arsitektur yang dapat digunakan adalah :

a. Sistem tunggal/ Mandiri (Stand Alone)
b. Sistem Tersentralisasi (Centralize System)
c. Sistem Client Server

Arsitektur sistem Client-Server

Arsitektur client-server dapat diibaratkan setiap komputer memiliki tugas yang berbeda dan bisa dioptimalkan untuk tugas tertentu. Misalkan pada DBMS terdapat didalam satu komputer tetapi banyak aplikasi yang mengakses database dan semua client melakukan permintaan dari database yang sama. Program yang menerima dan melayani permintaan ini adalah DBMS dan komputer yang menjalankan database disebut server database. Aplikasi sebagai client yang tidak mengetahui bagaimana data disimpan dalam database. Pada arsitektur client-server, aplikasi dipecah kedalam dua komponen utama yang bekerjasama untuk mencapai satu tujuan bersama. Komponen komponen ini disebut dengan tier (tingkat) dan setiap tingkat mengimplementasikan fungsi yang berbeda. Menurut Evangelos Petroustos diklasifikasikan menjadi dua model yaitu:

a. Model Dua Tingkat (Two-Tier)
.
Tingkat pertama dari model two-tier adalah client tier atau presentation layer yang dijalankan pada client. Tingkat ini mengandung kode yang menampilkan data dan berinteraksi dengan user. Aplikasi client meminta data dari database dan menampilkannya pada salah satu atau lebih form tampilan. Setelah data berada pada komputer client aplikasi, kita bisa memprosesnya dan menampilkannya dengan berbagai cara. Komputer client mampu memanipulasi data secara lokal dan server tidak dilibatkan didalam proses ini. Jika user mengedit sebuah field aplikasi, user juga bisa meng- update database.
Tingkat kedua adalah database server atau DBMS tingkatan ini memanipulasi objek yang sangat komplek yaitu database. DBMS banyak menerima permintaan semacam yang sangat sulit dari client dan server harus bisa melayani semua permintaan client tersebut. Tugas dari server adalah mengambil data yang dibutuhkan dan mengirimkannya kepada client.

b. Arsitektur Model Tiga Tingkat (Three-tier)

Model dua tingkat adalah arsitektur yang sangat efisien untuk aplikai datasbase, biasanya aplikasi dua tingkat ini dijalankan pada LAN yang kecil. Bentuk yang paling lengkap dari aplikasi database adalah three-tier .

Tingkat ini adalah sebuah objek yang ada diantara aplikasi client-server. Yang merupakan suatu class atau banyak class yang memiliki beberapa method dan mengurung client dari server. Aplikasi client bisa memanggil method objek yang berada pada middle-tier dan mendapatkan hasilnya. Keuntungan dari middle-tier adalah lapisan mengisolasi client dari server. Client tidak lagi mengakses database tetapi mengambil method yang dimiliki oleh objek-objek pada middle-tier.
Aplikasi yang terstruktur dengan baik mengimplementasikan operasi-operasi di dalam middle-tier. Selain itunclient tidak perlu tahu bagaimanana setiap pelanggan disimpan dalam database. Jika dia bisa memanggil method addCustomer() dan mengirimkan nilai-nilai pada field (nama pelanggan, alamat dsb) sebagai argumennya, middle-tier akan menyisipkan informasi baru kedalam database dan mengembalikan nilai true jika semua berjalan lancar atau pesan error jika terjadi kesalahan.

Minggu, 11 Oktober 2009

Tugas PSI 1 (SDLC)

SDLC (System Development Life Cycle)
Siklus Hidup Pengembangan Sistem

SDLC merupakan proses yang direkayasa secara logik untuk mengembangkan sistem dari tahap perencanaan sampai penerapan

4(empat) tahap pertama (Tahap FRONT –END)
Digerakkan oleh pemakai
Untuk menyelidiki konsep sistem baru dan menentukan dengan tepat apa yang dibutuhkan para pemakai sebelum merancang sistem secara terinci
Dokumentasi Laporan yang dibuat ditujukan untuk para pemakai sistem
2 Tahap terakhir (Tahap BACK-END)
Digerakkan oleh perancang dan teknokrat
Proses dari pengembangan sistem yang terutama :
Analisis sistem
Desain sistem
Implementasi sistem
+ Proses kebijakan
+ Perencanaan sistem dalam tahapan pengembangan sistem (proses ini merupakan tahapan sebelum dilakukan pengembangan sistem initiation of system project)
Desain sistem dalam 2 tahapan :
# Desain sistem secara umum/ konsep/ makro/ logika/khusus
# Desain sistem secara rinci/fisik
Setelah sistem baru dikembangkan dan diimplementasikan
# Tahap Pemeliharaan (10 -20 tahun atau lebih)
Jika sistem ini tidak lagi efisien dan efektif untuk tetap digunakan, maka tidak dilanjutkan dan sistem baru dikembangkan



Tahapan Dalam SDLC

1. Tahap Perencanaan
2. Tahap Analisis
3. Tahap Perancangan Umum TAHAP FRONT-END
4. Tahap Evaluasi dan Seleksi

5. Tahap Perancangan Rinci TAHAP BACK-END
6. Tahap Implementasi

Sumber : www.youtube.com

Rabu, 07 Oktober 2009

Tugas 1 ( KSI Lanjut)



Keterangan :

Untuk memperlancar proses produksinya perusahaan biskuit kaleng membutuhkan beberapa bahan – bahan mentah untuk memproduksi biskuit tersebut, diantaranya : terigu, gula, mentega, garam, telur, keju, coklat, vanili, pengembang kue yang dipasok oleh perusahaan cookies. Perusahaan juga membutuhkan bahan baku alumunium yang dipasok dari perusahaan kaleng serta kertas dan plastik yang dipasok oleh perusahaan kemasan / box. Oleh sebab itu perusahaan harus bekerja sama dengan perusahaan – perusahaan lain untuk memperlancar produksinya.

Kemudian setelah seluruh bahan baku tersedia maka perusahaan biskuit kaleng mengolah semua bahan baku tersebut menjadi biskuit kaleng, seteleh semua selesai diproduksi biskut tersebut diuji laboratorium untuk diuji kandungan gizinya apakah layak dikonsumsi atau tidak oleh konsumen. Setelah pengujian sesuai dengan prosedur biskuit disimpan di dalam gudang penyimpanan dan siap untuk didistribusikan melalui distributorlokal maupun internasional.

Kemudian dari distributor – distributor tersebut biskuit kaleng didistribusikan kembali ke supermarket – supermarket sehingga konsumen dapat membeli biskuit kaleng tersebut.

Rabu, 30 September 2009

Pengantar Telematika

Sejarah dan PengertiaanTelematika

Perkembangan informasi sudah sedemikian rupa seperti sekarang ini.
Apalagi pada bidang teknologi telematika telah berkembang sehingga mampu menyampaikan (mentransfer) berbagai macam informasi.
Bahasa telematika itu sendiri di berasal dari bahasa asing yaitu dari bahasa Perancis (TELEMATIQUE) yang dapat diartikan suatu sistem jaringan komunikasi dengan teknologi informasi. Namun menurut pengertian para praktisi Telematika itu sendiri merupakan gabungan dari dua kata yaitu TELECOMMUNICATION and INFORMATICS” yang dikenal dengan istilah “the new hybrid technology” . Yang lahir dari perkembangan teknologi digital.

Perkembangan Telematika

Di Tanah Air Perkembangan teknologi informasi dan telematika masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain, bahkan negara Cina sudah dapat menyalip Indonesia dalam bidang aplikasi komputer yang sebelumnya berada di bawah kita. Sebelumnya di Indonesia sudah memiliki badan secara khusus mengurus perkembangan teknologi informasi, yaitu Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKTI). Tugas dari badan ini adalah melaksanakan pemerintahan online atau e-government.Dengan e-government, pemerintah dapat menjalankan fungsinya melalui media Internet. Yang bertujuan memberi pelayanan kepada publik secara transparan dan dengan akses yang lebih mudah. Caranya dengan membangun sejumlah situs yang tersedia. Semua itu dapat terleksana karena ada kebijakan otonomi daerah yang sangat berperan dalam perkembangan e-goverment.





sumber :http://www.total.or.id/info.php?kk=Telematika



Selasa, 23 Desember 2008

User Interface Design

Tujuan dari UID adalah merancang interface yang efektif untuk sistem perangkat
lunak. Efektif artinya siap digunakan, dan hasilnya sesuai dg kebutuhan.
Kebutuhan disini adalah kebutuhan penggunanya.
Pengguna sering menilai sistem dari interface, bukan dari fungsinya melainkan
dari user interfacenya. Jika desain user interfacenya yang buruk, maka itu sering
jadi alasan untuk tidak menggunakan software. Selain itu interface yang buruk
sebabkan pengguna membuat kesalahan fatal.
Saat ini interface yang banyak digunakan dalam software adalah GUI (Graphical
User Interface).

GUI memberikan keuntungan seperti:

1. gampang dipelajari oleh pengguna yang pengalaman dalam menggunakan
komputer cukup minim
2. berpindah dari satu layar ke layar yang lain tanpa kehilangan informasi
dimungkinkan
3. akses penuh pada layar dengan segera untuk beberapa macam
tugas/keperluan

Beberapa karakteristik dari GUI dan penjelasannya

- Window Beberapa window bisa tampilkan informasi-informasi
berbeda sekaligus pada layar
- Icon Mewakili informasi yang berbeda seperti icon untuk
file, icon folder atau icon untuk program tertentu
- Menu Menawarkan perintah-perintah yang disusun dalam
menu tanpa harus mengetik
- Pointing Alat penunjuk seperti mouse untuk memilih pilihan
pada layar
- Graphic Gambar yang bisa dicampur dengan teks pada display
yang sama untuk menyajikan informasi

Prosse perulangan yang terjadi menjelaskan bahwa proses-proses
tersebut dilakukan hingga menghasilkan desain yang diinginkan oleh pengguna.
Desain harus bersifat user-centered, artinya pengguna sangat terlibat dalam
proses desain. Karena itu ada proses evaluasi yang dilakukan oleh pengguna
terhadap hasil desain.

Rekayasa Perangkat Lunak Teknik Informatika UKDW

Gambar 1: Proses merancang user interface
Prinsip –prinsip dalam merancang user interface

Berikut ini prinsip-prinsip UID:
 User familiarity / Mudah dikenali :
gunakan istilah, konsep dan kebiasaan user
bukan computer (misal: sistem perkantoran gunakan istilah letters,
documents, folders bukan directories, file, identifiers. -- jenis document
open office
 Consistency/ “selalu begitu” :
Konsisten dalam operasi dan istilah di seluruh
sistem sehingga tidak membingungkan. -- layout menu di open office mirip
dgn layout menu di MS office.
 Minimal surprise / Tidak buat kaget user :
Operasi bisa diduga prosesnya
berdasarkan perintah yang disediakan.
 Recoverability/pemulihan :
Recoverability ada dua macam: Confirmation of
destructive action (konfirmasi terhadap aksi yang merusak) dan ketersediaan
fasilitas pembatalan (undo)
 User guidance/ bantuan :
Sistem manual online, menu help, caption pada icon
khusus tersedia
 User diversity/keberagaman :
Fasilitas interaksi untuk tipe user yang berbeda
disediakan. Misalnya ukuran huruf bisa diperbesar
User Interaction (Interaksi pengguna)
Perancang sistem menghadapi dua masalah penting yaitu:
 Bagaimana informasi dari user bisa disediakan untuk sistem komputer –
misalnya pada saat input data
 Bagaimana informasi dari sistem komputer ditampilkan untuk user – hasil
dari pemrosesan data
Executable
prototype
Design
prototype
Produce paperbased
design
prototype
Produce
dynamic design
prototype
Evaluate design
with end-users
Implement
final user
interface
Evaluate design
with end-users
Analyse and
understand user
activities

Rekayasa Perangkat Lunak Teknik Informatika UKDW


User interface yang baik harus menyatukan interaksi pengguna (user interaction)
dan penyajian informasi (information presentation).

Ada 5 tipe utama interaksi untuk user interaction:

1. Direct manipulation – pengoperasian secara langsung: interaksi langsung
dengan objek pada layar. Misalnya delete file dengan memasukkannya ke
trash. Contoh: Video games.
 Kelebihan: Waktu pembelajaran user sangat singkat, feedback
langsung diberikan pada tiap aksi sehingga kesalahan terdeteksi dan
diperbaiki dengan cepat
 Kekurangan : Interface tipe ini rumit dan memerlukan banyak fasilitas
pada sistem komputer, cocok untuk penggambaran secara visual untuk
satu operasi atau objek

2. Menu selection – pilihan berbentuk menu:
Memilih perintah dari daftar yang disediakan. Misalnyasaat click kanan dan memilih aksi yang dikehendaki.
 Kelebihan : User tidak perlu ingat nama perintah. Pengetikan minimal.
Kesalahan rendah.
 Kekurangan :Tidak ada logika AND atau OR. Perlu ada struktur menu
jika banyak pilihan. Menu dianggap lambat oleh expert user dibanding
command language.

3. Form fill-in – pengisian form : Mengisi area-area pada form. Contoh: Stock
control.
 Kelebihan : Masukan data yang sederhana. Mudah dipelajari
 Kekurangan : Memerlukan banyak tempat di layar. Harus
menyesuaikan dengan form manual dan kebiasaan user.

4. Command language – perintah tertulis:
Menuliskan perintah yang sudahditentukan pada program. Contoh: operating system.
 Kelebihan : Perintah diketikan langsung pada system. Misal UNIX, DOS
command. Bisa diterapkan pada terminal yang murah.Kombinasi
perintah bisa dilakukan. Misal copy file dan rename nama file.
 Kekurangan:Perintah harus dipelajari dan diingat cara penggunaannya
– tidak cocok untuk user biasa.Kesalahan pakai perintah sering terjadi.
Perlu ada sistem pemulihan kesalahan.Kemampuan mengetik perlu.
5. Natural language – perintah dengan bahasa alami:
Gunakan bahasa alami
untuk mendapatkan hasil. Contoh: search engine di Internet.
 Kelebihan: Perintah dalam bentuk bahasa alami, dengan kosa kata yang
terbatas (singkat) – misalnya kata kunci yang kita tentukan untuk dicari
oleh search engine. Ada kebebasan menggunakan kata-kata.
 Kekurangan: Tidak semua sistem cocok gunakan ini. Jika digunakan
maka akan memerlukan banyak pengetikan.
Penyajian Informasi (Information Presentation)
Sistem yang interaktif pasti menyediakan cara untuk menyajikan informasi untuk
pengguna. Penyajian informasi bisa berupa penyajian langsung dari input yang
diberikan (seperti teks pada word processing) atau disajikan dengan grafik.

Beberapa faktor berikut adalah hal yang perlu diperhatikan sebelum menentukan
bentuk penyajian informasi:

 Apakah pengguna perlu informasi dengan ketepatan tinggi atau data yang
saling berhubungan?
 Seberapa cepat nilai informasi berubah? Harus ada indikasi perubahan
seketika?
 Apakah pengguna harus memberi respon pada perubahan?
 Apakah pengguna perlu melakukan perubahan pada informasi yang
disajikan?
 Apakah informasi berupa teks atau numerik? Nilai relatif perlu atau tidak?
Informasi bisa bersifat statis atau dinamis ketika disajikan, masing-masing baik
dengan karakteristik yang berbeda dan kebutuhan yang berbeda pula:
1. Static information:
 Ditentukan saat awal sesi. Tidak berubah selama sesi berjalan.
 Bisa berupa informasi numeris atau teks Chart di MS-Excel
 Disajikan dengan jenis huruf khusus yang mudah dibaca atau diberi highlight
dengan warna tertentu seperti pada Gambar 4 atau menggunakan icon yang
mewakili
2. Dynamic information:
 Perubahan terjadi selama sesi berlangsung dan perubahan harus
dikomunikasikan/ditunjukkan ke user
 Bisa berupa informasi numeris atau teks. Contoh : Defragmentation, scanning
virus, download
Informasi dalam bentuk teks bersifat tepat dan berubah secara lambat sedangkan
informasi dengan gambar/grafik mampu menjelaskan hubungan antar gambar,
data bisa berubah dengan cepat. Seperti pada Gambar 2, informasi yang sama
disajikan dengan dua cara yang berbeda. Jika yang dibutuhkan adalah hubungan
antar data pada bulan-bulan tersebut, maka informasi dengan grafik memberikan
informasi tentang hubungan tersebut lebih cepat dari pada informasi yang
disajikan dengan teks dan numerik.

Informasi dengan numerik dapat juga disajikan dengan cara digital atau analog dengan karakteristik sebagai berikut:

1. Digital presentation
a. Singkat – hanya perlu sedikit tempat pada layar
b. Ketepatan nilai ditunjukkan
2. Analogue presentation
a. Nilai terlihat sambil lalu
b. Untuk menunjukkan nilai relatif
c. Mudah melihat data nilai yang berbeda


Selain nilai yang disajikan relatif, informasinya bersifat dinamis, karena berubah saat sesi berjalan. Untuk
nilai digital kita biasanya gunakan untuk menunjukkan jam pada jam sistem di
komputer. Selain ketepatan diperlukan, perubahannya tidak terjadi secara cepat.